Andai Pak Walikota ini Kader PKS

0
302
image
Oleh: Umi Laila Sari
Kota Palembang

Sebenarnya liqo kelompok kami nyaris bubar. Dari belasan orang, tersisa 4 orang saja. Mereka bukan gugur di jalan dakwah. Tapi insyaallah ditempatkan di lahan dakwah yang baru. Bulan kemarin kami mengadakan perpisahan dengan seorang teman yang telah lulus kedokteran gigi dan kembali ke daerah asal. Atau teman yang lain harus dipindahtugaskan ke  pulau seberang. Dengan jumlah personil yang bahkan tak mencukupi jumlah jari di satu tangan, kami berusaha tetap solid. Apapun yang terjadi, kami tetap mengaji (AYTKTM).

Menghadapi Pemilu April nanti, kamipun mengagendakan rangakaian silaturahim untuk memastikan dukungan masyarakat pada PKS. Sabtu (18/01) ba’da ashar, kami berkunjung ke rumah warga yang telah mengisi form KTA. Selain mengajak ikut dalam program-program DPC, juga kami bagikan sekedar oleh-oleh.  Nah, oleh-oleh ini bisa apa saja. Amunisi partai seperti kalender, stiker, kartu nama juga ditambah sejenis makanan yang berjumlah 3 buah/macam.

“Bu, sengaja kita kasi 3 macam. Roti, susu dan margarin, biar Ibu ingat PKS nomor 3,”  begitu kami berseloroh saat menyerahkan oleh-oleh.

Di pamflet yang dibagikan juga kami buat 3 program unggulan DPC, yakni Pos Eka untuk bidang ekonomi. Belajar baca qur’an (BBQ) untuk bidang agama serta penyuluhan dan pembuatan lubang biofori untuk bidang lingkungan.

Alhamdulillah, sore itu sesuai target kami mengunjungi 7 rumah. Dan tiap rumah, semua mata pilih sudah menjadi anggota. Dari silaturahim tersebut, disepakati akan dibentuk kelompok BBQ yang baru.

Agar meluaskan jangkauan, maka kami  buat penggiliran. Pekan ini silaturahim yang telah menjadi anggota, pekan depan lanjut RTD untuk menawarkan menjadi anggota. Begitu seterusnya. Terkadang ada rasa malu dan takut untuk menawarkan PKS, tapi dengan RTD bersama, semua rasa jadi satu, seru!

Selalu ada cerita unik setiap menemui warga. Seperti Sabtu kemarin (18/1) kami dapat curhat dari seorang ibu tentang belum masuknya PDAM  di lingkungan mereka. “Kalau urusan air bersih bisa selesai, aku jamin bukan hanya aku tapi seluruh warga di sini akan memilih PKS,” ujar sang ibu.

Kami saling lirik untuk mengomentarinya. “Aduh Bu…, kalau  saja walikotanya kader PKS, sekarang juga saya telpon Pak Walikota,” iseng saya menjawab dalam hati.

Karena memang  tidak ada kebijakan untuk mengatasi masalah ibu itu, maka kami jawab dengan seadanya.  Setelah diamati dengan teliti, ternyata memang menyedihkan daerah di sekitar kami RTD. Meski terletak di tengah kota, hanya terhalang deretan mall dan hotel dari jalan raya namun tidak tersentuh air bersih. Padahal tiap tahun langganan banjir. Ironi yang juga terjadi di banyak daerah di negeri ini.

Usai keliling-keliling, kembali ke rumah salah seorang diantara kami. Menghilangkan lelah sesaat sambil saling melempar guyon.

“Tadi kayaknnya ada  yang takut lewat jalan ‘layang’. Tapi pas mau pulang, eh dia sombong pake nanya, hayo rumah mana lagi?” Kami saling lirik dan senyum-senyum.

Kondisi rumah yang berada diatas rawa serta bersebelahan dengan parit, maka semua rumah yang kami kunjungi harus melalui jalan kecil yang hanya bisa  dilalui satu orang  di atas DAM.

Hari beranjak senja, tapi tekad kami tak beranjak untuk tetap di jalan dakwah.***

__
*Humas DPC PKS Kemuning kota Palembang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.