Continous Improvement

0
388

Oleh: Yogi Syafril (Praktisi Pendidikan)

“In a competitive market, an organization that is not improving is losing ground. In fact, improving is not enough; to gain ground one has to be improving at a faster rate than the competition.” (Greg Bound, Beyond Total Quality Management)

***
Toyota melakukan penarikan sebanyak 110.000 unit kendaraan karena masalah perangkat lunak dan power steering, demikian dilaporkan laman Slashgear.

Model yang ditarik diantaranya Camry, Camry Hybrid, RAV4, RAV4 EV, Highlander dan Highlander Hybrid. Untungnya hingga saat ini tidak ada laporan cedera yang disebabkan oleh masalah tersebut.

Untuk penarikan kali ini, yang ditarik adalah mobil lansiran 2012 hingga 2014 yakni Toyota RAV4 EV dan RAV4 lansiran 2014 hingga 2015. Lalu model Camry dan Camry Hybrid terbaru (lansiran 2015). Penarikan RAV4 EV disebabkan oleh masalah perangkat lunak yang dapat menyebabkan gigi transmisi pindah ke netral, ini jelas sangat membahayakan.

Sementara penyebab penarikan non-EV RAV4 karena masalah kelistrikan pada power steering yang dapat menyebabkan power steering tidak berfungsi. Penyebab kerusakan bisa disebabkan pada saat proses perakitan. (www.pikiran-rakyat.com)

***
Globalisasi ekonomi yang sekarang sedang terjadi bertumpu pada 3C: “customer, competition, and change”. Customer memegang kendali bisnis, kompetisi semakin tajam, dan perubahan menjadi berubah.

Akibatnya produk dan jasa berubah dari “mass production” ke “mass customization”. Persaingan tidak lagi menganut “live and let live” tapi berubah menjadi “live and let die”. Serta terjadi perubahan yang konstan, serentak, radikal dan pervasif.

Untuk menghadapi situasi seperti ini, perusahaan-perusahaan besar dunia mengelola organisasinya dengan menggunakan konsep Continuous Improvement. Yaitu usaha-usaha berkelanjutan yang dilakukan untuk mengembangkan dan memperbaiki produk, pelayanan, ataupun proses.

Usaha-usaha tersebut bertujuan untuk mencari dan mendapatkan “bentuk terbaik” dari improvement yang dihasilkan, yang memberikan solusi terbaik bagi imasalah yang ada, yang hasilnya akan terus bertahan dan bahkan berkembang menjadi lebih baik lagi.

Continuous Improvement dilakukan dengan didasari oleh kejujuran mengakui kekurangan, kerendahan hati untuk terus belajar, kerja keras dan kesabaran untuk melakukan perbaikan, keterbukaan terhadap hal baru serta keberanian melakukan perubahan.

Maka Toyota, ketika menyadari dalam produk mobilnya ada kesalahan walaupun “kecil” dan sebenarnya belum ada “complain” dari customer-nya, Toyota berani menarik puluhan ribu mobilnya yang sudah beredar.

Sikap inilah, mungkin yang membuat Toyota tetap eksis di dunia otomotif bahkan bisa leading menjadi produsen mobil terbesar di dunia.

***
Nampaknya kita harus kembali ber-‘apologi’…. Sebenarnya konsep Continuous Improvement sudah lama diajarkan oleh Rasulullah SAW. Itulah yang dinamakan dengan “Istighfar” dan “Taubat”.

Istighfar adalah kesadaran dan pengakuan terhadap dosa dan kesalahan yang dilakukan secara sengaja atau tidak disengaja. Dan Taubat adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk memperbaiki dosa dan kesalahan tersebut serta berupaya untuk tidak mengulanginya lagi.

Maka ketika kita ber-istighfar dan ber-taubat dalam konteks Continuous Improvement, dapat dipastikan kita akan leading menjadi “produsen kebaikan” terbesar di dunia.

Mungkin di sinilah baru kita bisa memahami “keajaiban Istighfar”.

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS Hud : 3)

(Referensi : “Sistem Perencanaan dan Pengendalian Manajemen”, Mulyadi & Johny Setyawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.