PKS-SUMSEL.OR.ID – Seorang komandan¬† ingin mengecek kesiapan fisik prajuritnya sebelum berangkat ke medan pertempuran. Maka dia kumpulkan seluruh prajuritnya, kemudian memerintahkan mereka untuk berlari mengelilingi lapangan.¬† Prajuritnya bertanya, “Berapa kali komandan?” Sang komandan menjawab, “Mastatho’tum…!!!” Serentak berlarilah para prajuritnya mengelilingi lapangan, melaksankan perintah sang komandan.

Setelah berlari tiga putaran, ada prajurit yang menghentikan larinya. Sang komandan bertanya, “Kenapa berhenti?” Sambil terengah-engah dia menjawab, “mastatho’tum“.

Setelah berlari empat putaran, lima putaran, enam putaran dan seterusnya, satu persatu prajuritnya menghentikan larinya dengan alasan yang sama “mastaho’tum“.

Tetapi setelah semua prajurit menghentikan larinya, ada seorang prajurit yang masih terus berlari dan berlari. Sampai akhirnya dia terjatuh dan pingsan di tengah lapangan. Ketika dia siuman, sang komandan bertanya, “Kenapa anda berlari sampai pingsan seperti ini?” Sang prajurit menjawab “mastatho’tum“.
(Cerita adaptasi)

***
TAQWA secara normatif adalah kesiapan dan kesanggupan seseorang untuk melaksanakan segala macam perintah Allah dan menjauhi semua bentuk larangan-Nya dengan penuh ke-ikhlasan mengharap keridhaan-Nya.
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali-Imran)

Perintah dan larangan Allah sendiri hadir dalam seluruh spketrum dan dimensi kehidupan sehingga “lapang taqwa” pun begitu luas terbentang di hadapan manusia. Sedangkan Allah sendiri menciptakan¬† manusia dalam serba keterbatasan.

Maka Allah perintahkan manusia untuk bertaqwa kepada-Nya dengan batas “mastatho’tum” (menurut kesanggupanmu).
“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS At Taghabun:16)

Tetapi kemudian banyak manusia yang me-mastatho’tum-kan diri secara sepihak. Baru beberapa putaran mengelilingi “lapang taqwa” sudah berhenti dengan alasan “mastatho’tum“. Padahal batas “mastatho’tum” mengelilingi “lapangan taqwa” adalah sampai kita tak bisa berlari lagi.

Oleh: Drs. Yogi Syafril (Pendidik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.