SUMSEL.PKS.ID – Satu di antara alasan film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) menjadi fenomena tersendiri di ranah perfilman Indonesia adalah keunikannya. Unik proses produksinya, unik temanya dan tentu unik penontonnya. Film yang diangkat dari cerpen karya Helvy Tiana Rosa ini ditulis tahun 1997. Lalu dimuat secara bersambung di majalah Annida sebagai majalah alternatif remaja Islami. Karena sambutan luar biasa dari pembaca, maka KMGP diterbitkan dalam bentuk buku yang hingga kini telah puluhan kali cetak ulang dari empat penerbit.

Menjadi unik dalam perjalanan waktu, 20 tahun mewujudkan mimpi menjadikan KMGP sebagai film layar lebar. Ujian itu salah satunya keinginan untuk tidak menerima sponsor dari pihak yang sejatinya berseberangan ide dengan konten cerita. Hingga terpikirkan untuk melakukan patungan bikin film. Di Indonesia tidak banyak film yang memilih cara ini. Dunia film adalah industri hiburan yang berorientasi bisnis, yang terkadang mengabaikan idealisme.

Dari kenyataan demikian, lahir semboyan, “ini film kita, kita yang modalin, kita yang buat, dunia yang nonton,” demi memperjuangkan KMGP.
Keberanian mengambil langkah crowdfunding juga dilandasi ‘jiwa’ dari cerita KMGP. Isu pembelaan Palestina dan semangat hijrah generasi muda bukanlah tema laris manis yang bisa dijual di bisnis intertainment. Mungkin sejauh ini baru KMGP yang menyajikannya secara utuh ke hadapan dunia. Unik karena konten yang antimainstream.

Tentu tak heran jika akhirnya KMGP berhasil meraup penonton yang juga unik. Dari mereka yang selalu standby tiap ada film baru sampai mereka yang baru pertama kali masuk gedung bioskop. Dari yang berlabel santri sampai yang berstatus alay.

Begitulah rentetan keunikan KMGP yang akhirnya membuat kami cukup berdesakan saat nonton film tersebut. Nonton di hari dan jam pertama tayang serentak di seluruh Indonesia.

Tapi, tentu saja suksesnya tayang KMGP di bioskop bukan akhir. Justru perjuangan baru dimulai. Berjuang untuk terus menyajikan film inspirasi dan bernilai Islami dengan cita-cita besar perbaikan karakter bangsa.

Sebuah Ikhtiar Media Dakwah

Kerja dakwah adalah kerja komprehensif, menyeluruh, menyentuh tiap sisi kehidupan manusia. Tersebab apa yang dibawa oleh dakwah adalah Islam yang syamil dan mutakammil. Misi utama dakwah mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan (QS Ali Imron: 104). Untuk bisa sukses sesuai target, maka para aktivis dakwah dituntut memiliki strategi dakwah. Akan menjadi tidak optimal bilamana dakwah dikerjakan hanya sambil lalu. Strategi tersebut berasal dari komponen da’i, media dan metode serta mad’u.

Dalam tataran ilmu dakwah, ada banyak kompetensi yang seyogyanya dimiliki sang da’i. Namun, itu semua dapat dilakukan dengan learning by doing. Menyiapkan diri menjadi da’i minimal memiliki niat memperbaiki diri dan memulai perbaikan tersebut. Menjadi da’i bukan menjadi manusia sempurna. Menjadi da’i artinya berjuang melakukan percepatan proses menjadi hamba terbaik. Maka, tidak ada alasan belum punya banyak ilmu yang mumpuni hingga belum mau berdakwah.

Bagian dari strategi dakwah selanjutnya adalah metode dan media dakwah. Ini sangat beragam, sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman. Kreatifitas da’i menjadi sangat penting. Prinsipnya adalah semua metode dan media bisa digunakan selama tidak bertentangan dengan kaidah hukum Islam. Dan dakwah kultural melalui media seni adalah bagian dari ikhtiar da’i.
Sebagai rujukan mungkin bisa melihat sejarah tentang bagaimana para Wali Songo menggunakan media kesenian untuk menyampaikan pesan dakwahnya. Ada Sunan Giri dengan lagu gubahannya Cublak-cublak Suweng dan Lir ilir. Lalu Sunan Kalijaga dengan aksi wayangnya dan simbol-simbol rukun Iman. Juga Sunan Bonang yang mahir memainkan alat musik bonang serta menulis lagu Tombo Ati.
Sejatinya, seni adalah media potensial yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah. Sesuatu yang disampaikan dari hati akan sampai ke hati. Menyentuh hati dengan cinta. Seni adalah bahasa cinta yang universal dan humanis. Dan kini, film KMGP hadir sebagai bagian dari seni yang diikhtiarkan menjadi jalan dakwah.

Mengutip dari tulisan Salim A Fillah, da’i muda, penulis yang akhirnya ikut terlibat langsung dalam film KMGP mengungkapkan, “Ketika Mas Gagah Pergi membantu saya mengerti bahwa Allah memberi hidayah bagi siapapun yang dikehendakiNya dengan jalan yang sering di luar rencana para da’i.” Artinya memang tugas da’i hanya menyampaikan dengan sebaik-baik penyampaian dakwah. Hasilnya, hanya Allah yang menetapkan dengan jalan yang ditentukannya. Maka jangan pernah menutup peluang jalan datangnya hidayah.

Dengan kerja panjang dari banyak pihak, film ini akan menjadi sejarah bagi semangat hijrah kaum muda khususnya dan perjalanan dakwah Indonesia umumnya.┬áNamun tetap ada sebagian orang yang mempertanyakan media dakwah lewat film. Kepada mereka, saya ingin sampaikan penggalan kalimat mas Gagah, tokoh utama KMGP diperankan Hamas Syahid Izuddin yang kebetulan juga seorang penghafal Qur’an. “Jika kita tak setuju pada suatu kebaikan yang mungkin belum kita pahami, kita bisa coba untuk menghargainya, sebab Islam itu indah, Islam itu cinta.”

Setelah KMGP akan segera beredar film dokumenter berbau ideologis berjudul Rindu Sang Murobbi. Boleh jadi keduanya tidak sama, namun ada perjuangan dakwah menyertainya. Apresiasi luar biasa untuk film Islami Indonesia!

Ditulis oleh Umi Laila Sari (Penikmat film berkualitas yang kini diamanahkan di biro Kesusastraan bidang Kepemudaan DPW PKS Sumsel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.