H. Yuswar Hidayatullah, S.IP, MAP Ketua Komis I DPRD Sumsel, Caleg DPR-RI Dapil Sumsel 1
H. Yuswar Hidayatullah, S.IP, MAP
Ketua Komis I DPRD Sumsel, Caleg DPR-RI Dapil Sumsel 1

PALEMBANG, PKS-SUMSEL.OR.ID – Orang awam berpendapat, dalam politik tidak ada pertemanan dan musuh abadi, karena yang abadi hanyalah kepentingan. Hal tersebut benar adanya, melihat kondisi panggung politik Indonesia sekarang. Meski demikian, H. Yuswar Hidayatullah, S.IP, MAP, caleg PKS DPR-RI Dapil Sumsel 1, mengeneralisirnya dengan pendapat berbeda. Politik, membangun semangat kebersamaan dalam satu tujuan, yakni keadilan dan kesejahteraan.

Bagaimana caranya mewujudkan hal tersebut? Apa saja kendalanya di lapangan? Berikut petikannya.

Apa yang membuat Anda memilih loncat dari DPRD Sumsel ke DPR-RI?

Jujur, masih banyak persoalan yang ada di Sumsel dan belum kami tangani dengan maksimal. Mulai dari lahan, infrastruktur dan sebagainya. Perpindahan persaingan di pusat tentu akan menjadi hal yang menarik bagi kami untuk menyelesaikan masalah di Sumsel. Propinsi ini kaya, tetapi mengapa hingga kini perhatian masih minim. Semua hasil komoditi dilempar ke propinsi dan negara lain, Sumsel hanya menikmati hasil dari produk, bukan menentukan prosesnya.

Meski demikian, imbas dari itu kita yang merasakan, misalnya jalan rusak, berdebu, dan sebagainya. Hasil bumi kita kirim, rakyat hanya dapat debunya saja. Inilah yang akan kami perjuangkan jika dipercaya di DPR-RI. Jangan sampai pertumbuhan ekonomi di Indonesia tersentralistik, tetapi disesuaikan dengan kemampuan daerah.

Tentu ini otomatis akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Sumsel yang hanya 4,5-5% menjadi di atas nasional.

Apa yang menjadi kendala Sumsel selama ini?

Sumsel ini kaya, kok pertumbuhannya kalah dengan daerah seperti Nusa Tenggara. Sumsel ini dari zaman Belanda sudah diperhitungkan dengan kekayaan alamnya. Kalau boleh hitung-hitungan, banyak yang diberikan oleh Sumsel ke negeri ini, tetapi balasannya apakah setimpal.

Semuanya dikoordinir oleh pusat, daerah kebagian apa dong? Regulasi yang dibuat pun terkadang ‘banci’. Ini yang menjadi kendala utama, Sumsel harus survive dengna segala potensi yang ada, Sumsel harus berkaca dari hasil yang mereka torehkan, pemerintah harus aktif, sementara anggota dewan melakukan pengontrolan demi terlaksananya pemerintahan yang baik. Saya mengajak marilah semua wakil rakyat dan pemerintah melepaskan atribut partai demi satu tujuan tentunya.

Apa maksud Anda dengan pernyataan itu?

Bukan rahasia umum lagi kalau di parlemen banyak masyarakat berkata dengan pelesetan-pelesetan wakil rakyat menjadi wakil partai. Saya tak menyalahkan anggapan itu, kalau memang banyak ditemukan titipan-titpan partai.

Inilah politik di Indonesia, mengubahnya memang tak mudah, butuh suatu perjuangan tentunya. Janganlah politik ini dijadikan untuk kepentingan kalangan tertentu saja, tetapi global, visi harus sama. Kalau sudah jadi wakil rakyat lepaskanlah atribut partai, dan mari bersama-sama membangun untuk kesejahteraan. Inilah yang dikatakan politik kebersamaan.

Bagaimana cara Anda meyakinkan warga di Dapil?

Kami meyakinkan mereka lewat aksi nyata. Selama ini kader kami yang mrncalonkan diri turun langsung ke Dapil, bukan memandatkan kehendak mereka yang mau mencalonkan diri ke TImses. Selain itu, beberapa kegiatan sosial sering kami adakan di Dapil, membuat masyarakat kian tahu kualitas dan aksi dari Caleg PKS.

Apakah pernah Anda secara langsung ditodong oleh warga di Dapil?

Setiap caleg pasti akan diperlakukan demikian. Pernah di suatu tempat ada seorang warga mengatakan dari kabupaten/kota sudah ada, propinsi juga, tinggal DPR-RI (menodong Yuswar, red). Saya sontak terkejut, tinggal dijawab saja, warga mau dikasih uang mau dikasih cara mencari uang.

Kalau dikasih uang otomatis akan habis, sementara kalau dikasih cara mencari uang pasti akan sangat berguna. Mereka malah memilih dikasih tahu cara mencari uang. Inilah yang saya katakn membangun politik kebersamaan. Jika ini diterapkan oleh masing-masing caleg, saya yakin Indonesia bisa lebih sejahtera.

Terakhir, seberapa optimis seorang Yuswar bisa terpilih, mengingat partai Anda bisa dikatakan sedang ada masalah?

Kami di PKS sangat optimis. Masalah yang merudung partai makin membuat kader dan simpatisan makin militan. Kesalahan bukan di partai tapi di oknum. Apalagi banyak pendapat kalau kasus tersebut sebuah rekayasa politik. Ini makin membakar semangat kader untuk memberikan yang terbaik.

Selama ini survei mengeluarkan hasil yang tidak enak, tapi maaf, PKS tak beriman pada survei. Masih banyak indikator yang menentukan kami bisa mendapatkan suara lebih banyak. Dengan kualitas yang dimiliki oleh kader, PKS mampu untuk mewujudkan target pada Pemilu kali ini. Tak muluk-muluk, target tiga besar diharapkan mapu terealisasi. [ren/radarpalembang]

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.