image
Oleh Wawan Dinawan @wdinawan on twitter

Kita sedang menghadapi sebagian yang taat kepada Islam dan anti pati segala sesuatu selainnya, termasuk anti pati berkawan dengan selainnya.

Mengajak selainnya tolong menolong dalam muamalah gak boleh. Bahkan ketika selain muslim mendukung gerakan Islam, mereka menolak.

Entah apa yang dipandang, seolah memperjuangkan Islam itu harus dengan konfrontasi dengan selainnya.

Ketika non muslim mendukung perjuangan Islamis, dianggapnya bekerja sama dengan musuh Allah. Apakah demikian?

Tentu harusnya tidak. Remember, kafir itu ada 2 : harbi dan dzimmi. Bahkan yang bayar jizyah dilindungi sama dengan muslim.

Di PKS misalkan, ketika non muslim sudah mau mengikuti simbol-simbol kita, mengakui eksistensi kita, mendukung kita, kita disalahkan.

Mengundang mereka berbagi pikiran juga salah, bahkaaaaan, non muslim mau tunduk dengan AD/ART PKS pun salah. Gimana berpikirnya ya?

Bukannya kita berharap mereka ikut “millah” kita? Kok setelah mereka ikut millah kita, kita dicaci dimaki dan dibentak?

Yang perlu dicatat, kita hanya bermusuhan dengan mereka yang memusuhi kita (harbi). Bukan yang mengadakan perdamaian dengan kita.

Saya kira ummat ini salah persepsi. Mencampur aduk semua sektor kehidupan ini menjadi 1 masalah besar yakni Aqidah.

Qunut masalah aqidah, yasinan, barzanji, maulid, koalisi, demokrasi, unjuk rasa, dsb semuanya dianggap masalah aqidah. Ini masalahnya.

Jangan-jangan kalo besok khilafah bekerjasama dengan nasrani memerangi yahudi dianggap bermasalah dalam aqidah. Baca lagi lah kisah akhir zaman!!! (ada hadits Nubuwah tentang hal ini -ed)

Nubuwwahnya jadi salah dong ya? Saat muslim + nasrani melawan yahudi. Itu KOALISI dengan KAFIR. Ini masalah aqidah. #geleng2

Kita biasa berpikir hitam putih, salah atau benar, iman atau kafir. Bukannya para ulama dahulu gak gini ya?

Contoh lain: arisan itu riba, asuransi riba, uang kertas riba, bank riba. Yang ga riba cuma dinar dan dirham. Ini case hitam putihnya kita.

Kalo mau baca dan melihat realita, yang dibilang hitam bisa jadi benar hitam bisa jadi putih. Atau abu-abu.

Simplifikasi sebuah permasalahan menjadi kesimpulan ini masalah besar kita.

Simplifikasi ini lah juga yang biasa kita lihat di saudara-saudara kita dimana masalahnya hanya 1 dan khilafahlah solusinya.

Blending dan simplifikasi masalah kepada masalah aqidah banyak dilakukan oleh kawan-kawan yang lain sehingga mereka berpikir hanya perbaikan aqidah.

Benar kata anis matta, kesibukan kita kemudian hanya mencari diskusi ilmiah tentang masalah dan solusinya. Kemudian tutup dengan hamdalah. Lalu bertemu taklim berikut.

Dari taklim ke taklim terus ke taklim yang lain. Akhirnya ga ada hasilnya…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.