“SUMPAH” UMAR DI TAHUN KELAPARAN

0
720

PKS-SUMSEL.OR.ID – Tahun 17 Hijriyah, Jazirah Arab dilanda musim paceklik karena kemarau yang panjang. Makanan menipis dan masyarakat mulai merasakan kelaparan. Mereka pun berbondong-bondong datang ke Madinah untuk meminta bantuan dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab.

Umar bertindak cepat segera membagi-bagikan makanan dan uang dari Baitul Mal hingga kosong. Memobilisasi makanan dari para sahabat. Mengirim surat meminta bantuan kepada gubernur Mesir, Syria, Irak dan Persia. Mengirim surat ke seluruh gubernur di seluruh Jazirah Arabia supaya tidak memungut zakat tahun ini sampai kemarau usai dan tanah kembali subur.

Dan Umar pun ber”sumpah” kepada dirinya, hanya akan makan “roti dan minyak zaitun” sampai rakyatnya selamat.

***
Di malam hari, Umar bermunajat kepada Allah, “ Ya Allah, janganlah Engkau jatuhkan takdir kaum muslimin di hadapanku. Aku memohon kepada-Mu agar Kau hentikan musibah ini dari kami .”

Dia ulang-ulang doa tersebut sampai sang istri menegurnya, “kau sudah kelelahan, kau bisa membunuh dirimu sendiri, kau hanya makan roti dan minyak zaitun, warna kulitmu sampai berubah, kau harus makan daging dan lemak untuk mengatasinya.”

“Bagaimana aku akan memenuhi sumpahku, aku tak akan makan daging atau lemak sampai rakyatku selamat. Bagaimana aku bisa merasakan penderitaan rakyatku kecuali menjalani seperti yang mereka alami,” jawab Umar kepada sang isteri.

Setelah itu Umar berdiri mengambil baju mantelnya, sang istri pun bertanya, “mau kemana kau selarut ini?”

Umar menjawab lagi, “aku akan patroli di sekitar gerbang Madinah untuk melihat kondisi orang-orang miskin ini yang telah datang ke Madinah dengan harapan bantuan dari Amirul Mukminin.”

Sang istri pun bertanya lagi, “apakah kau akan habiskan sebagian waktumu bersama mereka dan sebagian malamku juga?”

Umar pun tidak menjawabnya dan pergi meninggalkan istrinya sendiri.

***
Anak Umar datang membawakan makan siang untuk ayahnya berupa punuk dan hati unta.

“Punuk dan hati dari mana ?” Umar segera bertanya.

“Dari unta yang kita potong hari ini untuk dibagikan kepada rakyat,” jawab anaknya.

“Kau tahu aku telah bersumpah hanya makan roti dan minyak zaitun sampai rakyatku selamat,” Umar berkata agak tinggi.

“Tapi ini dari unta yang dibagikan untuk makan para warga hari ini,” anaknya menyampaikan argumen.

“Dan kau berikan bagian yang terbaik untukku? Aku adalah pemimpin yang buruk jika makan makanan enak sementara rakyatku makan makanan yang tak enak. Bawa pergi piring itu dan berikan pada warga untuk mereka makan. Ambilkan aku roti dan minyak,” Umar memberikan perintah kepada anaknya.

“Wajahmu sampai menghitam karena hanya makan roti dan minyak ini, berhati-hatilah!” anaknya menjawab lagi.

“Kerjakan sesuai perintahku!” Umar pun mengakhiri pembicaraan.

***
Setelah berlangsung selama 9 (sembilan) bulan akhirnya kelaparan dapat diatasi. Bantuan Mesir, Syria, Irak dan Persia berdatangan. Tak lama kemudian hujan pun turun. Umar pun baru bisa bernafas lega dan mengakhiri “sumpah”-nya hanya makan “roti dan minyak zaitun”.

Ditulis oleh Drs. Yogi Syafril yang diadaptasi dari film “Omar”)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.