SUMSEL.PKS.ID – Dalam Islam, tidak ada toleransi dalam hal urusan agama. Maka, alasan utama hari valentine haram dirayakan adalah karena merupakan bagian ritual agama lain. Di referensi situs Wikipedia.org, tertulis hari valentine disebut juga Hari Santo Valentinus yang merupakan budaya Kristen dan menjadi hari raya terbesar kedua setelah Natal. Banyak versi sejarah valentine di antaranya dikarenakan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. Salah satu dalil yang bisa dijadikan rujukan adalah Al-Qur’an surah Al-Hadid ayat 16:

“Belum datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalu masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan dari meraka adalah orang-orang yang fasik.”

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, “karenanya Allah telah melarang kaum mukminin untuk tasyabbuh kepada mereka dalam perkara apapun, baik yang sifatnya ushul (prinsipil) maupun yang hanya merupakan furu’ (perkara cabang). Tasyabbuh adalah penyerupaan terhadap orang kafir dengan seluruh jenisnya dalam hal aqidah atau ibadah atau adat atau cara hidup yang merupakan kekhususan mereka. Artinya, inipun berlaku untuk semua jenis perayaan atau kebiasaan agama lain. Dan di Indonesia ada banyak ritual agama tertentu yang akhirnya seolah menjadi perayaan bersama yang tidak lagi membedakan agama seperti natal, imlek, tahun baru, valentine dan seterusnya.

Ada alasan lain yang turut mendukung prinsip ‘sekali tidak tetap tidak’ untuk perayaan hari valentine. Karena dianggap hari kasih sayang maka dianggap boleh mengekspresikan cinta dalam bentuk apapun bahkan mayoritas melanggar aturan agama dan norma sosial.

Cara paling sederhana yang dilakukan remaja untuk merayakannya adalah dengan memberi kado kepada pacar atau seseorang yang diinginkannya menjadi pacar. Namun biasanya kado tidak secara gratis diberikan melainkan juga dengan ajakan untuk pergi berduaan (pacaran/kencan). Karena sudah menerima kado, yang isinya beragam mulai dari cokelat, boneka, aksesoris, dan barang apapun kesukaannya, maka ada rasa sungkan kalau menolak tawaran kencan. Dan manakala, kesepakatan bertemunya dua remaja dalam rangka merayakan kasih sayang, dimulailah semua kemungkinan yang tidak diinginkan bisa terjadi. Tindak kekerasan, kejahatan seksual baik secara psikologis maupun fisik, pemerasan, penyalahgunaan narkoba, penyalahgunaan alat kontrasepsi, miras, pelanggaran lalu lintas, mengganggu ketertiban umum dan seterusnya. Diakui atau tidak, hari valentine turut menyumbang semakin meningkatnya kenakalan remaja serta penyakit sosial.

Tapi, bagi seorang aktifis dakwah ada yang harus disyukuri dengan perayaan tiap tanggal 14 Februari yakni berkah kreatifitas metode dan media dakwah. Pada setiap tahun selalu ada kegiatan bernuansa merah jambu versi Islami. Ada seminar cinta, forum curhat jomblo sejati, launching dan bedah buku A-Z bab jatuh hati, reality show katakan cintamu, dan seabreg ide kreatif lainnya. Tahun ini, secara nasional ada GEMAR (Gerakan Menutup Aurat) dengan berbagai kegiatan seperti pembagian jilbab gratis, tutorial hijab syar’i, talksow hingga usulan adanya Hari Menutup Aurat Internasional. Semua media dan metode dakwah tersebut hadir ‘hanya’ karena adanya hari valentine. Bukankah sesuatu yang buruk jika disikapi dengan baik dan bijak juga mendatangkan berkah? Jadi, setuju atau tidak, Valentine’s Day harusnya patut disyukuri.

Ditulis oleh Umi Laila Sari (Biro Kesusastraan Bidang Kepemidaan DPW PKS Sumsel/Anggota Relawan Literasi PKS Sumsel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.