Berita PKS Sumsel

Kembara Masuk Desa Muara Emil

Samar terdengar suara dari Kusman saat berbicara di depan peserta Kemah Bakti Nusantara (Kembara). Mungkin ia peserta tertua dalam acara ini. Sebenarnya ia tak mau menyebut usia, karena baginya ada dua macam usia. Dan ia memilih usia nonbiologis, dimana semangat dan harapan mengalahkan umur aslinya. Seorang peserta menulis 62 tahun.

Saat hari terakhir di Desa Muara Emil, Kecamatan Tanjung Agung, Muara Enim jelang Subuh lokasi perkemahan diguyur hujan. Tempat terbuka khusus peserta untuk berkumpul dan shalat sepi karena terpal sebagai alasnya pasti basah. Kusman bersama beberapa jama’ah tetap berdiri shalat Subuh dalam kondisi kehujanan. “Rasa sakit, dingin, tak terasa jika kita bahagia,” ungkapnya. Kalau hanya karena kehujanan, shalat berjamaah kita tinggalkan, bagaimana shalat saat berperang?

Itu adalah beberapa kesan peserta Kembara saat penutupan, bisa jadi mereka akan sangat menyesal jika tidak hadir.

“Ay sepi lagi tempat kami. Kasih tahu kami lagi kedatangan PKS disini,” kata Halimah (60) nampak antusias, lapangan desa dibersihkan, besi tiang gawang diperbaiki. Diserahkan pula sound system untuk Masjid Jami’ Al Falah dan bola kaki untuk Karang Taruna.

Diantara 798 alasan untuk tidak mengikuti agenda tarbiyah ini, Kusman mewakili 160 peserta Kembara se-Sumatera Selatan (Sumsel), selama tiga hari, Senin-Rabu (23-25 Desember 2019). Acara yang dahulu disebut mukhayyam ini menjadi momok bagi kader PKS. Musim hujan, hawa dingin, cuaca terik, perlengkapan seadanya, melawan rasa malas, ketiadaan uang tersimpan, zona nyaman, jabatan, pekerjaan, hingga harimau yang turun gunung, apalagi?

Meski menjabat Ketua Dewan Pengurus Wilayah PKS Sumsel Muhammad Toha tetap patuh dan taat sebagai peserta, nyaris tak ada beda. Termasuk anggota DPRD yang hadir, tak ada fasilitas istimewa.

Usai menjelaskan empat aspek dasar Kembara, yakni: memperkokoh kebangsaan, spiritual, semangat pelayanan kepada masyarakat, juga rekreasi (refreshing). Ia membuka acara dalam apel resmi, lantas bergabung kembali ke dalam salah satu dari 17 kelompok Kembara.

Jika peserta ditempatkan ke daerah asing yang belum dikenal, maka seperti itulah Nabi Adam as sebelumnya. Dari tempat mewah tak terkira di surga, turun ke belantara bumi sendiri. Keluarga Nabi Ibrahim pun sama, di tengah gurun tak berpenghuni.

Ketua Departemen Kepanduan dan Pengamanan Dewan Pengurus Pusat PKS Yoyok Switohandoyo menjelaskan, kader PKS yang menjadi peserta dilatih disiplin, fisik, mental, pola hidup sehat dan kekuatan. Sehingga diharapkan mereka bisa menjaga aset dakwah. Bukan malah jadi sejarah.

Negeri ini butuh patriot, jargon film Gundala. Agar tidak menjadi para pengkhianat yang tertulis dalam kelamnya sejarah Indonesia. Juga sebagai bukti bahwa PKS cinta NKRI, hadir anggota TNI Mayor Sersan Abdurachman dan Sersan Satu Oloan Parlautan Sinaga.

Mereka memberi materi tentang baris berbaris. Saat berbagi pengalaman tugas dan rintangan yang dihadapi TNI, peserta sempat bertanya, “Mengapa masih bertahan menjadi TNI?”

Ia menjawab diplomatis, “…sama seperti kalian kenapa masih bertahan sama s̶a̶t̶u̶ istri?”

Tidak ketinggalan Komandan Koramil Irwanda turut menjadi pemateri bela negara. Indonesia bertahan dari serangan asing bukan hanya karena ada TNI tapi seluruh warga masyarakat yang siap menjadi pendukung, bukan malah menjadi pengkhianat.

Jawaban ini relevan dengan kondisi PKS saat ini. Tetaplah bertahan dan bersiap siagalah!

Kusman (62) tengah bersama kelompok peserta Kemah Bakti Nusantara di Desa Muara Emil, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Rabu (25/12/2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *